DEVIANA KURNIA NINGSIH
2SA01
11612929
KEWIRAUSAHAAN
- TEORI-TEORI KEWIRAUSAHAAN
1.Teori
Life Path Change
Menurut Shapero dan Sokol (1982) dalam Sundjaja (1990), tidak semua wirausaha lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana. Banyak orang yang menjadi wirausaha justru tidak memaluli proses yang direncanakan. Antara lain disebabkan oleh:
a. Negative displacement
Seseorang bisa saja menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, tertekan, terhina atau mengalami kebosanan selama bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah asal. Atau bisa juga karena sudah memasuki usia pensiun atau cerai perkawinan dan sejenisnya.
Banyaknya hambatan yang dialami keturunan Cina untuk memasuki bidang pekerjaan tertentu (misalnya menjadi pegawai negeri) menyisakan pilihan terbatas bagi mereka. Di sisi lain, menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarganya, menjadi wirausaha pada kondisi seperti ini adalah pilihan terbaik karena sifatnya yang bebas dan tidak bergantung pada birokrasi yang diskriminatif.
b. Being between things
Orang-orang yang baru keluar dari ketentaan, sekolah, atau penjara, kadangkala merasa seperti memasuki dunia baru yang belum mereka mengerti dan kuasai. Keadaan ini membuat mereka seakan berada di tengah-tengah dari dua dunia yang berbeda, namun mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan hidupnya. Di sinilah biasanya pilihan menjadi wirausaha muncul karena dengan menjadi wirausaha mereka bekerja dengan mengandalkan diri sendiri.
Menurut Shapero dan Sokol (1982) dalam Sundjaja (1990), tidak semua wirausaha lahir dan berkembang mengikuti jalur yang sistematis dan terencana. Banyak orang yang menjadi wirausaha justru tidak memaluli proses yang direncanakan. Antara lain disebabkan oleh:
a. Negative displacement
Seseorang bisa saja menjadi wirausaha gara-gara dipecat dari tempatnya bekerja, tertekan, terhina atau mengalami kebosanan selama bekerja, dipaksa/terpaksa pindah dari daerah asal. Atau bisa juga karena sudah memasuki usia pensiun atau cerai perkawinan dan sejenisnya.
Banyaknya hambatan yang dialami keturunan Cina untuk memasuki bidang pekerjaan tertentu (misalnya menjadi pegawai negeri) menyisakan pilihan terbatas bagi mereka. Di sisi lain, menjaga kelangsungan hidup diri dan keluarganya, menjadi wirausaha pada kondisi seperti ini adalah pilihan terbaik karena sifatnya yang bebas dan tidak bergantung pada birokrasi yang diskriminatif.
b. Being between things
Orang-orang yang baru keluar dari ketentaan, sekolah, atau penjara, kadangkala merasa seperti memasuki dunia baru yang belum mereka mengerti dan kuasai. Keadaan ini membuat mereka seakan berada di tengah-tengah dari dua dunia yang berbeda, namun mereka tetap harus berjuang menjaga kelangsungan hidupnya. Di sinilah biasanya pilihan menjadi wirausaha muncul karena dengan menjadi wirausaha mereka bekerja dengan mengandalkan diri sendiri.
c. Having positive pull
Terdapat juga orang-orang yang mendapat dukungan membuka usaha dari mitra kerja, investor, pelanggan, atau mentor. Dukungan memudahkan mereka dalam mengantisipasi peluang usaha, selain itu juga menciptakan rasa aman dari risiko usaha. Seorang mantan manajer di sebuah perusahan otomotif, misalnya, yang memutuskan untuk masuk ke bisnis suku cadang otomotif, misalnya dengan bahan baku ban bekas, seperti stopper back door, engine mounting, atau mufler mounting. Perusahaan otomotif tersebut memberi dukungan dengan menampung produk mantan manajernya tersebut.
2. Teori Goal Directed Behavior
Menurut Wolman (1973), seseorang dapat saja menjadi wirausaha karena termotivasi untuk mencapai tujuan tertentu. Teori ini disebut dengan Goal Directed Behavior.
Teori ini hendak menggambarkan bagaimana seseorang tergerak menjadi wirausaha, motivasinya dapat terlihat langkah-langkahnya dalam emncapai tujuan (goal directed behavior). Diawali dari adanya dorongan need, kemudian goal directed behavior, hingga tercapainya tujuan. Sedangkan need itu sendiri dari skema muncul karena adanya defisit dan ketidakseimbangan tertentu pada diri individu yang bersangkutan (wirausaha).
Seseorang terjun dalam dunia wirausaha diawali dengan adanya kebutuhan-kebutuhan, ini mendorong kegiatan-kegiatan tertentu, yang ditujukan pada pencapaian tujuan. Dari kaca mata teori need dan motivasi tingkah laku, seperti menemukan kesempatan berusaha, sampai mendirikan dan melembagakan usahanya merupakan goal directed behavior. Sedangkan goal tujuannya adalah mempertahankan dan memperbaiki kelangsungan hidup wirausaha.
3. Teori Outcome Expectancy
Bandura (1986) menyatakan bahwa outcome expectancy bukan suatu perilaku tetapi keyakinan tentang konskuensi yang diterima setelah seseorang melakukan suatu tindakan tertentu.
...judgement
about likely consequences of specific behaviors in particular situations.
(Bandura, 1986:82)
(Bandura, 1986:82)
Dari definisi di atas, outcome expectancy dapat
diartikan sebagai keyakinan seseorang mengenai hasil yang akan diperolehnya
jika ia melaksanakan suatu perilaku tertentu, yaitu perilaku yang menunjukkan
keberhasilan. Seseorang memperkirakan bahwa keberhasilannya dalam melakukan
tugas tertentu akan mendatangkan imbalan dengan nilai tertentu juga. Imbalan
ini berupa juga insentif kerja yang dapat diperoleh dengan segera atau dalam
jangka panjang. Karenanya jika seseorang menganggap profesi wirausaha akan
memberikan insentif yang sesuai dengan keinginannya maka dia akan berusaha
untuk memenuhi keinginannya dengan menjadi wirausaha. Michael Dell, seorang
mahasiswa teknik komputer di AS, mempunyai keyakinan yang kuat bahwa bila dia
geluti serius hobi modifikasi komputer yang diminati teman-temannya ia akan
dapat mengalahkan IBM kelak. Terdorong oleh hal itu Dell terus mengembangkan
usaha dengan mendirikan Dell Corporation. Hingga kini Dell dan IBM terus
bersaing di industri komputer.
Jenis Outcome Expectancy
Menurut bandura (1986) ada berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang diharapkan individu dan setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut adalah:
a. Insentif primer
Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan isiologis kita seperti makan, minum, kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat nilainya jika seseorang dalam keadaan sangat kekurangan, seperti kurang makan/minum.
b. Insentif sensoris
Beberapa kegiatan manusia ditujukan untuk memperoleh umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya. Misalnya anak kecil melakukan berbagai kegiatan untuk mendapatkan insemtif sensoris berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus baru untuk dilihat atau orang dewasa yang bermain musik untuk memperoleh umpan balik sensoris berupa bunyi musik yang dimainkan.
c. Insentif sosial
Manusia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman daripada reaksi yang berasal dari satu individu.
d. Insentif yang berupa token ekonomi
Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjungan, dan lain-lain. Hampir seluruh masyarakat menggunakan uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan dengan uang, individu dapat memperoleh hampir semua hal yang diinginkannya, mulai dari pelayanan jasa hingga pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lainlain.
e. Insentif yang berupa aktivitas
Teori-teori mengenai reinforcement yang sangat terikat pada dorongan biologis, mengasumsikan bahwa imbalan akan memengaruhi perilaku dengan cara memuaskan atau mengurangi dorongan fisiologis. Ternyata dari penelitian terbaru diketahui bahwa beberapa aktivitas atau kegiatan fisik justru memberikan nilai insentif yang tersendiri pada individu.
f. Insentif status dan pengaruh
Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosial memberikan kesempatan kepadnya untuk mengontrol perilaku orang lain, baik melalui simbol atau secara nyata. Dengan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat, mereka dapat menikmati imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan, dan lain-lain. Keuntungan yang khas ini membawa individu berusaha keras untuk mencapai posisi yang memberikan kekuasaan.
g. Insentif berupa terpenuhinya standar internal
Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari pekerjaanya. Insentif bukan berasal dari hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri seseorang. Reaksidiri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya. Seorang yang merasakan bahwa kemampuannya tidak akan dapat optimal bila hanya bekerja sebagai karyawan, akan lebih puas bila ia merasa bahwa dengan berwirausaha segenap potensinya dapat tersalurkan.
Jadi ada insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang dengan menjadi wirausaha. Antara lain insentif primer, insentif sosial, insentif status dan pengaruh, dan insentif terpenuhinya standar internal.
Menurut bandura (1986) ada berbagai jenis insentif sebagai imbalan kerja yang diharapkan individu dan setiap jenis memiliki kekhasan sendiri. Jenis insentif tersebut adalah:
a. Insentif primer
Merupakan imbalan yang berhubungan dengan kebutuhan dengan kebutuhan isiologis kita seperti makan, minum, kontak fisik, dan sebagainya. Insentif diperkuat nilainya jika seseorang dalam keadaan sangat kekurangan, seperti kurang makan/minum.
b. Insentif sensoris
Beberapa kegiatan manusia ditujukan untuk memperoleh umpan balik sensoris yang terdapat di lingkungannya. Misalnya anak kecil melakukan berbagai kegiatan untuk mendapatkan insemtif sensoris berupa bunyi-bunyi baru atau berupa stimulus baru untuk dilihat atau orang dewasa yang bermain musik untuk memperoleh umpan balik sensoris berupa bunyi musik yang dimainkan.
c. Insentif sosial
Manusia akan melakukan sesuatu untuk mendapatkan penghargaan dan penerimaan dari lingkungan sosialnya. Penerimaan atau penolakan dari sebuah lingkungan sosial akan lebih berfungsi secara efektif sebagai imbalan atau hukuman daripada reaksi yang berasal dari satu individu.
d. Insentif yang berupa token ekonomi
Token ekonomi adalah imbalan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi seperti upah, kenaikan pangkat, penambahan tunjungan, dan lain-lain. Hampir seluruh masyarakat menggunakan uang sebagai insentif. Hal ini disebabkan dengan uang, individu dapat memperoleh hampir semua hal yang diinginkannya, mulai dari pelayanan jasa hingga pemenuhan kebutuhan fisik, kesehatan, dan lainlain.
e. Insentif yang berupa aktivitas
Teori-teori mengenai reinforcement yang sangat terikat pada dorongan biologis, mengasumsikan bahwa imbalan akan memengaruhi perilaku dengan cara memuaskan atau mengurangi dorongan fisiologis. Ternyata dari penelitian terbaru diketahui bahwa beberapa aktivitas atau kegiatan fisik justru memberikan nilai insentif yang tersendiri pada individu.
f. Insentif status dan pengaruh
Pada sebagian besar masyarakat, kedudukan individu seringkali dikaitkan dengan status kekuasaan. Kekuasaan yang dimiliki individu dalam lingkungan sosial memberikan kesempatan kepadnya untuk mengontrol perilaku orang lain, baik melalui simbol atau secara nyata. Dengan kedudukannya yang tinggi dalam masyarakat, mereka dapat menikmati imbalan materi, penghargaan sosial, kepatuhan, dan lain-lain. Keuntungan yang khas ini membawa individu berusaha keras untuk mencapai posisi yang memberikan kekuasaan.
g. Insentif berupa terpenuhinya standar internal
Insentif ini berasal dari tingkat kepuasan diri yang diperoleh individu dari pekerjaanya. Insentif bukan berasal dari hal di luar diri, tetapi berasal dari dalam diri seseorang. Reaksidiri yang berupa rasa puas dan senang merupakan salah satu bentuk imbalan internal yang ingin diperoleh seseorang dari pekerjaannya. Seorang yang merasakan bahwa kemampuannya tidak akan dapat optimal bila hanya bekerja sebagai karyawan, akan lebih puas bila ia merasa bahwa dengan berwirausaha segenap potensinya dapat tersalurkan.
Jadi ada insentif-insentif tertentu yang umumnya diharapkan seseorang dengan menjadi wirausaha. Antara lain insentif primer, insentif sosial, insentif status dan pengaruh, dan insentif terpenuhinya standar internal.
- · TUJUAN KEWIRAUSAHAAN
1.Tujuan Pembentukan Wirausaha
Teori-teori diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat menjadi wirausaha. Walau teori tersebut masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke empat teori tersebut saling mengisi. Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut adalah:
a. Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untuk mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lainlain). Deficit equilibrium dapat pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti jika seseorang mendapat tekanan atau hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta mendapat dukungan dari orang lain (Shapero & Sokol, 1982).
b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha
Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternatif pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perseptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan, tingkat aspirasinya terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat besar (Reitman, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi wirausaha.
c. Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman, 1973).
Teori-teori diatas sudah menjelaskan mengenai bagaimana proses seseorang dapat menjadi wirausaha. Walau teori tersebut masing-masing berdiri sendiri, sebenarnya ke empat teori tersebut saling mengisi. Dengan memadukan ke empat teori tersebut dapat menjadi model tahapan pembentukan yang sifatnya lebih komprehensif. Tahapan tersebut adalah:
a. Deficit equilibrium
Seseorang merasa adanya kekurangan dalam dirinya dan berusaha untuk mengatasinya. Kekurangan tersebut tidak harus berupa materi saja, namun dapat juga berupa ketidakpuasan terhadap dirinya sendiri (motivasi, standar internal, dan lainlain). Deficit equilibrium dapat pula terjadi karena berubahnya jalur hidup, seperti jika seseorang mendapat tekanan atau hinaan, misalnya baru keluar dari penjara, serta mendapat dukungan dari orang lain (Shapero & Sokol, 1982).
b. Pengambilan keputusan menjadi wirausaha
Perasaan kekurangan mendorong dia untuk mencari pemecahannya, untuk itu dia mengevaluasi alternatif pemecahan yang dimiliki. Dalam hal ini kemampuan perseptual, kapasitas informasi yang diterima, keberanian mengambil resiko, dan, tingkat aspirasinya terhadap suatu alternatif keputusan memeiliki peran yang sangat besar (Reitman, 1976) dalam usahanya mengambil keputusan untuk menjadi wirausaha.
c. Goal Directed Behavior
Keputusan menjadi wirausaha diambil dengan tujuan memecahkan masalah kekurangan yang dia miliki. Di sini masalah kekurangan diidentifikasi dengan adanya harapan sebagai pemecahan. Harapan-harapan tersebut berupa insentif yang akan dia dapat jika melakukan tindakan tertentu. Insentif ini menjadi rangsangan atau tujuan sehingga mendorong tindakan dan perilakunya sebagai seorang wirausaha (Wolman, 1973).
d. Pencapaian Tujuan
Seperti dijelaskan sebelumnya, tujuan sangat penting untuk pengambilan keputusan menjadi wirausaha. Tujuan ini berupa insentif yang diyakini akan dinikmati jika seseorang melaukan kegiatan tertentu.
2.Tujuan kewirausahaan
a.Meningkatkan
jumlah para wirausaha yang berkualitas.
b.Mewujudkan
kemampuan dan kemantapan para wirausaha untuk menghasilkan kemajuan dan
kesejahteraan masyarakat.
c.Membudayakan
semangat sikap, perilaku, dan kemampuan kewirausahaan di kalangan masyarakat
yang mampu, handal, dan unggul.
d.Menumbuhkembangkan
kesadaran dan’orientasi Kewirausahaan yang tangguh dan kuat terhadap masyarakat.
- · PERAN PENDIDIKAN DALAM PEMBENTUKAN KEWIRAUSAHAAN
Bagaimana
peran pendidikan dalam proses pembentukan keentrepreneuran / kewirausahaan?
Masih ada perdebatan mengenai masalah ini. Meskipun seorang entrepreneur
belajar dari lingkungannya dalam memahami dunia entrepreneurship / wirausaha,
namun ada pendapat yang menyatakan bahwa seorang entrepreneur/wirausahawan
lebih memiliki streetsmart daripada booksmart. Maksudnya adalah seorang
entrepreneur lebih mengutamakan untuk belajar dari pengalaman (streetsmart)
dibandingkan belajar dari buku dan pendidikan formal (booksmart). Pandangan ini
masih perlu dibuktikan kebenarannya. Jika pendapat tersebut benar maka secara
tidak langsung usaha-usaha yang dilakukan untuk mendorong lahirnya jiwa
ke-entrepreneur-an / kewirausahaan lewat jalur pendidikan formal pada akhirnya
sukar berhasil.
Terhadap pandangan di atas, Churcill (1987) memberi sanggahan terhadap pendapat ini. Menurutnya masalah pendidikan sangatlah penting bagi keberhasilan seorang entrepreneur. Bahkan dia mengatakan bahwa kegagalan pertama bagi seorang entrepreneur adalah karena dia lebih mengandalkan pengalaman daripada pendidikan. Namun disini Churcill juga tidak menganggap remeh arti pengalaman bagi seorang entrepreneur, baginya sumber kegagalan kedua adalah jika seorang entrepreneur hanya bermodalkan pendidikan tetapi miskin pengalaman lapangan. Oleh karena itu perpaduan antara pendidikan dan pengalaman adalah faktor utama yang menentukan keberhasilan seorang entrepreneur/wirausahawan.
“…the most likely entrepreneurs to fail would be those experience but not education. The 2nd most likely entrepreneurs to fail would be those education but no experience. Conversely, those entrepreneurs who had both experience and education would be associated with the most profitable business enterprises. This makes education issues an important one…”
Menurut Eels (1984) dan Mas’oed (1984), dibandingkan dengan tenaga lain tenaga terdidik S1 memiliki potensi lebih besar untuk berhasil untuk menjadi seorang entrepreneur karena memilki kemampuan penalaran yang telah berkembang dan wawasan berpikir yang luas. Seorang sarjana juga juga memiliki dua peran pokok, pertama sebagai manajer dan kedua sebagai pencetus gagasan. Peran pertama berupa tindakan untuk menyelesaikan masalah, sehingga pengetahuan manajemen dan keteknikan yang memadai mutlak diperlukan. Peran kedua menekankan pada perlunya kemampuan merangkai alternatif-alternatif. Dalam hal ini bekal yang diperlukan berupa pengetahuan keilmuan yang lengkap.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa seorang entrepreneur / wirausahawan yang memiliki potensi sukses adalah mereka yang mengerti kegunaan pendidikan untuk menunjang kegiatan serta mau belajar untuk meningkatkan pengetahuan. Lingkungan pendidikan dimanfaatkan oleh entrepreneur sebagai sarana mencapai tujuan. Adapun pendidikan disini berarti pemahaman suatu masalah yang dilihat dari sudut keilmuan atau teori sebagai landasan berpikir
- · FAKTOR-FAKTOR PEMICU KEWIRAUSAHAAN
Perilaku
kewirausahaan dipengaruhi oleh factor internal dan eksternal. Faktor-faktor
internal meliputi hak kepemilikan, kemampuan, dan insentif. Sedangkan faktor
eksternal meliputi lingkungan. Jadi, kemampuan berwirausaha meripakan fungsi
dari perilaku kewirausahaan dalam mengkombinasi kreativitas, inovasi, kerja
keras, dan keberanian menghadapi resiko untuk memperoleh peluang.
a.
MODEL PROSES KEWIRAUSAHAAN
Kewirausahaan
diwali dengan adanya inovasi, didukung, oleh kejadian pemicu,
diimplementasikan, dan akhirnya tumbuh dan berkembang. Faktor pemicu yang
berasal dari lingkungan ialah peluang, model peran, aktivitas, pesaing,
inkubator, sumber daya, dan kebijakan pemerintah. Orang yang berhasil dalam
berwirausaha adalah orang yang dapat menggabungkan nilai, sifat utama (pola
sikap), dan perilaku dengan bekal pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan
praktis.
b.
CIRI-CIRI PENTING TAHAP PERMULAAN DAN PETUMBUHAN
KEWIRAUSAHAAN
Proses
pertumbuhan kewirausahaanpada usaha kecil tersebut memiliki tiga cirri penting,
yaitu:
1.
tahapan
imitasi dan duplikasi, adalah para wirausah mulai meniru ide dariorang lain.
2.
tahapan
duplikasi dan pengembangan, adalah para wirausaha mulai mengembangkan ide-ide
barunya.
3.
tahapan
menciptakan sendiri barang dan jasa baru yang berbeda, adalah menciptakan suatu
yang baru dan berbeda melalui ide-ide sendiri sampai terus dikembangkan.
Dilihat
dari prosesnya, Zimmerer (1996:15-16) membagi perkembangan kewirausahaan
kedalam dua tahap yaitu:
1.
tahap
awal (perintisan)
2.
tahap
pertumbuhan
c.
LANGKAH MENUJU KEBERHASILAN BERWIRAUSAHA
Untuk menjadi wirausaha yang sukses,
seseorang harus memiliki ide atau visi bisnis yang jelas serta kemauan dan
keberanian untuk menghadapi resiko, baik waktu maupun uang. Apabila ada
kesiapan dalam menghadapi resiko, lamgkah berikutnya adalah membuat perencanaan
usaha, mengorganisasikan, dan menjalankannya.
d.
FAKTOR PENYEBAB KEBERHASILAN DAN KEGAGALAN BERWIRAUSAHA
Keberhasilan seorang wirauaha
ditentukan oleh beberapa faktor yaitu:
1.
kemampuan
dan kemauan. Orang yang tidak memiliki kemampuan tetapi banyak kemauan dan
orang yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan, keduanya tidak
akan menjadi wirausaha yang sukses.
2.
tekad
yang kuat dan kerja keras. Orang yang tidak memiliki tekad yang kuat tetapi mau
bekerja keras dan orang yang suka bekerja kera tetapi tidak memiliki tekad yang
kuat, keduanya tidak akan menjadi wirwusaha yang sukses.
3.
mengenal
peluang yang ada dan berusaha meraihnya ketika ada kesempatan.
e.
PENYEBAB KEGAGALAN BERWIRAUSAHA
Selain kerberhasilan, seorang wirausaha
juga selalu dibayangi oleh potensi kegagalan. Zimmerer (1996:14-15)
mengemukakan beberapa faktor yang menyebabkan wirausaha gagal dalam menjalankan
usah barunya yaitu:
1.
tidak
kompeten dalam hal manajerial
2.
kurang
berpengalaman, baik dalam kemampuan teknik.
3.
kurang
dapat mengendalikan keuangan
4.
gagal
dalam perencanaan
5.
lokasi
kurang memadai
6.
kurangnya
pengwasan peralatan
7.
sikap
yang kurang sungguh-sungguh dalam berusaha
8.
ketidakmampuan
dalam melakukan peralihan/transisi kewirausahaan
selain
faktor-faktor yang membuat kegagalan kewirausahaan, Zimmerer (1996:17)
mengemukakan beberapa potensi yang membuat seseorang mundur dari kewirausahaan,
yaitu:
1.
pendapatan
yang tidak menentu
2.
kerugian
akibat hilangnya modal investasi
3.
perlu
kerja keras dan waktu yang lama
4.
kualita
kehidupan yang tetap rendah meskipun usahanya telah berhasil
f.
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN BERWIRAUSAHA
Peggy Lambing dan Charles L Khuel
(2000:19-20) mengemukakan keuntungan dan kerugian berwirausah sebagai berikut:
Keuntungan
berwirausaha
1. Otonomi.
Pemgelolaan yang bebas dan tidak terikat membuat wirausah menjadi seorang “bos”
yang penuhkepuasan
tantangan
awal dan perasaan motif berprestasi. Tantangan awal atau perasaan bermotivasi
yang tinggi merupakan hal yang menggembirakan. Peluang untuk menggembangkan
konsep usaha yang dapat menghasilkan keuntungan sangat memotivasi wirausaha.
2.control
financial. Wirausaha memiliki kebebasan untuk mengelola keuangan dan merasa
kekayaan milik sendiri.
Kerugiaan
berwirausaha
1.
pengorbana
personal. Pada awalnya, wirausaha harus bekerja dengan waktu yang lama dan
sibuk. Sedikit sekali waktu yang tersedia untuk kepentingan keluarga.
2.
beban
tanggung jawab. Wirausaha harus mengelola semua fungsi bisnis, baik pemasaran,
keungan, personal, maupun pengadaan dan pelatihan.
3.
kecilnya
margin keuntungan dan besarnya kemungkinan gagal. Karena wirausaha menggunakan
sumber dana miliknya sendiri, maka margin laba/keuntungan yang diperoleh akan
relative kecil.
Sumber
:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar