Deviana Kurnia
Ningsih
11612929
3SA01
Telaah novel
sastra
1. Judul : Women at
Point Zero (Perempuan di Titik Nol)
oleh Nawal el-Saadawi
Diterjemahkan oleh Amir
Sutaarga
Biografi Penulis : Nawal el-Saadawi adalah seorang dokter
yang berasal dari Mesir. Ia dikenal diseluruh dunia sebagai novelis dan penulis
wanita sekaligus pejuang hak-hak wanita pertama di Mesir.
Dilahirkan di sebuah desa
bernama Kafr Tahla di tepi Sungai Nil. Ia memulai praktek pertama nya didaerah
pedesaan, kemudian dirumah sakit sekitar Kairo dan terakhir menjabat sebagai
Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir pada tahun 1972, Ia diberhentikan oleh
Menteri Kesehatan karena sudah menerbitkan buku non-fiksi nya yang pertama, Women and Sex. Tahun 1973, ia memulai tahap baru dalam
hidupnya, tahap itupun telah menjadi saksi lahirnya novel yang berjudul Firdaus
atau yang lebih dikenal dengan Women at
Point Zero (Perempuan di Titik Nol).
Karya-karya nya, yang
disensor oleh badan sensor Mesir dan dilarang di Saudi Arabia dan Libya,
sekarang diterbitkan di Lebanon. The
Hidden Face of Eve adalah buku pertamanya yang di terjemahkan ke dalam
bahasa Inggris. Karya-karya nya antara lain: Women and Sex, Women and
Psychological Conflict (buku-buku mengenai wanita); The Chant of the Children Circle, Two Women in Love, God Dies
by the Nile, Memoirs of a Lady Doctor
(novel); A Moment of Truth, Little Sympathy (cerita pendek)
2. Sinopsis : Firdaus adalah anak petani miskin, yang tidak bisa membaca
maupun menulis. Sejak kecil ia sudah merasakan kekejaman fisik maupun mental
dari ayah nya. Firdaus diasuh oleh paman nya ketika ayah ibu nya meninggal
dunia. Paman Firdaus sering pergi ke Kairo dan belajar di El Azhar, ia memiliki
sikap lebih baik dan lembut dibanding ayah nya. Walaupun begitu paman Firdaus
tidak melewatkan kesempatan nya untuk melakukan pelecehan seksual kepada
dirinya, seringkali paman nya meraba-raba paha Firdaus.
Firdaus disekolahkan oleh
pamannya di sekolah menengah pertama. Disana ia merasakan bergaul dengan teman
seumurannya dan ia juga merasakan jatuh cinta namun bukan dari pria tapi dari guru
nya yang adalah seorang perempuan. Lulus dari sekolah menengah pertama Firdaus
mendapat nilai terbaik. Lalu, paman nya menikah dengan anak dari guru nya
sewaktu ia sekolah di Al Ezhar.
Bibi nya kurang begitu
suka dengan kehadiran Firdaus dirumah nya, sehingga ia berencana menikahkan
Firdaus dengan laki-laki tua yang sudah berumur 60 tahun, kaya raya, pelit dan
memiliki bisul diwajahnya, ia bernama Syekh Mahmoud.
Sebagai balas budi kepada
paman dan bibi nya Firdaus pun menerima pinangan Syekh Mahmoud, walau pada saat
itu Firdaus masih berumur 18 tahun. Lama kelamaan Firdaus tidak tahan tinggal
bersama Syekh Mahmoud karena ia sering mendapat siksaan fisik dan setiap ia
mendapatkan perlakuan tidak mengenakan tersebut Firdaus kabur dari rumah Syekh
Mahmoud.
Ketika ia kabur, ia
ditolong oleh laki-laki yang tidak dikenalnya yang bernama Bayoumi. Kesan
pertama yang ia dapatkan adalah Bayoumi laki-laki baik hati karena sudah
menampungnya dirumah nya. Namun kenyataannya, Bayoumi sama dengan laki-laki
lain, ia menikmati tubuh Firdaus bersama teman-temannya. Dan disaat ini lah
yang membawa Firdaus pada suatu profesi yaitu pelacur.
Disaat ia melarikan diri
dari rumah Bayoumi, ia bertemu dengan wanita cantik Sharifa, yang berprofesi
sebagai seorang germo. Fawzi adalah pacar Sharifa yang ingin menikahi Sharifa,
setelah mendengar berita ini Firdaus memutuskan untuk melarikan diri. Sewaktu
hujan ia diajak oleh seseorang yang tidak dikenalnya untuk masuk ke dalam mobil
dan dibawa ke hotel, setelah selesai melakukan pekerjaan nya sebagai pelacur ia
dibayar 10 pon.
Firdaus menjadi pelacur
yang mandiri dan memiliki harga kelas mewah. Ia bisa memiliki apapun yang
diinginkan, berdandan secantik mungkin dan bisa memilih pelanggannya sendiri.
Nasib baik belum dimilikinya,
Firdaus mulai merasakan frustasi karena merasa tidak nyaman dan tenang hidup
sebagai pelacur. Ia beralih profesi bekerja sebagai pegawai kantoran, disana ia
jatuh cinta pada teman kerja nya. Tapi teman kerja nya pun hanya ingin
menikmati tubuh nya. Firdaus kembali menjadi pelacur dan germo memaksa Firdaus
untuk berkerja untuknya. Belajar dari pengalaman, Firdaus merasa bahwa ia tak
mau lagi menjadi wanita yang terus menerus di injak-injak. Namun, sang germo
tetap memaksa dan mengancamnya. Firdaus memegang sebilah pisau dan menusukkanya
kepada germo tersebut, sehingga akhirnya ia terbunuh. Lalu, Firdaus menyerahkan
diri kepada polisi dan akhirnya ia dipenjara.
Firdaus dijatuhi hukuman mati dan ia
menolak grasi yang diberikan oleh presiden yang diusulkan oleh dokter penjara kepada
dirinya. Ia memilih untuk menjalani hukuman tersebut karena baginya hukuman
mati merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.
3. Latar
belakang novel Perempuan di Titik Nol
1. Latar belakang budaya
Penulis
dengan lantang menguak kebobrokan masyarakat Mesir yang didominasi oleh kaum
laki-laki. Wanita harus menurut kepada suami, ayah dan saudara laki-lakinya
sehingga menimbulkan kekerasan fisik maupun batin. Yang digambarkan dengan
penderitaan dan pemberontakan Firdaus, wanita Mesir yang tertindas.
2. Latar belakang sosial
Diceritakan
bahwa Firdaus adalah seorang Pelacur. Seperti yang kita ketahui dimasyarakat
bagian manapun, pelacur adalah pekerjaan yang dianggap kotor dan tidak
terhormat dan biasanya dilakukan oleh masyarakat kalangan bawah.
3. Latar belakang religius
Novel
Perempuan di Titik Nol ini sangat kental dengan nilai Islami nya, yaitu :
-
Mempelajari
Al-Quran sejak kecil, seperti yang dilakukan oleh Paman Firdaus yang sudah
mengajarkan Firdaus membaca Al-Quran sejak kecil
-
Melakukan
sholat Jum’at bagi kaum laki-laki, seperti yang dilakukan oleh Ayah Firdaus
setiap hari Jum’at
-
Mengharuskan
seorang istri menuruti perintah suami, seperti yang dilakukan Ibu, Bibi dan
Firdaus sendiri terhadap suami mereka
4. Analisis Novel Perempuan di Titik Nol
4. Analisis Novel Perempuan di Titik Nol
Unsur Intrinsik
–
Alur : Maju Mundur (Campuran)
Novel
ini menceritakan tentang kisah semasa kecil tokoh utama yang
harus berpisah dengan ibu kandung dan keluarganya. Firdaus harus berpisah
dengan ibunya karena ia harus tinggal bersama pamannya di kota. Setelah
itu, tokoh utamanya mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari
lingkungan terdekatnya. Firdaus sering menjadi korban pelecehan seksual oleh
pamannya. Seperti pada kutipan cerita di bawah ini:
“saya melihat tangan paman saya
pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya…
sampai paha.”(hlm 20)
Sebelumnya,
Firdaus sudah pernah melakukan hal yang sama bersama teman laki-laki nya, Muhammadain.
Sewaktu mereka masih kecil, seperti yang dikutip pada cerita berikut ini :
“Kami bermain-main menjadi “pengantin perempuan dan
pengantin laki-laki’. Dari bagian tertentu tubuh saya, dibagian mana saya tidak
tahu dengan pasti, timbul suatu perasaan nikmat luar biasa.”(hlm 19)
Pada bagian konflik inti, novel ini
memaparkan kehidupan Firdaus yang semakin tidak jelas, sebenarnya ketidak
jelasan hidup Firdaus sudah bias dilihat dari masa kecil nya. Ia dijadikan
objek shahwat oleh kaum pria yang hanya ingin menikmati tubuhnya. Karena pada
saat itu perempuan hanyalah kaum tertindas. Meskipun demikian, ia selalu tegar
sehingga kehidupannya berangsur membaik. Ia mulai menikmati kehidupannya,
walaupun tetap sebagai seorang pelacur. Hingga pada akhirnya ia terlibat kasus
pembunuhan dan penganiayaan terhadap germo. Ia pun harus menerima hukuman yang
setimpal, yaitu hukuman mati
Pada penyelesaian konfliknya Firdaus
tidak pernah menyesali atas apa yang pernah ia perbuat..
“Sekarang saya sedang menunggu
mereka. Sebentar lagi mereka akan datang menjemput saya (untuk dieksekusi).” (hlm 148)
–
Tokoh :
Firdaus : Lemah lembut, tegas
dan kuat pada pendiriannya
Dokter
Psikolog : Sabar, lembut dan
ramah
Sipir : Judes dan galak
DokterPenjara : Sombong
Ayah : Kasar dan galak
Ibu : Kejam dan kasar
Paman : Baik dan pengertian.
Tetapi karena keadaan menjadi kejam
Isrtri
Paman : Licik
Wafeya : Sahabat yang mengerti
dan memahami Firdaus
Kepala
sekolah : Tegas
Syekh
Mahmoud : Suami Firdaus yang pelit,
kikir dan kasar
Bayoumi : Awalnya baik
namun setelah Firdaus tidak nyaman dengannya tingkah lakunya berubah menjadi
kasar. Dan salah satu pria yang menikmati
tubuh Firdaus
Shafira : Orang yang licik karena
memanfaatkan kepolosan Firdaus untuk mendapatkan uang yang banyak
Ibrahim : Orang yang licik
karena memanfaatkan kepolosan Firdaus untuk mendapatkan uang yang banyak
Marzouk : Orang yang suka
memaksa dan akhirnya dibunuh oleh Firdaus
Pangeran : Orang yang
melaporkan Firdaus ke polisi
karena telah membunuh
–
Latar :
Latar
Tempat: Penjara, mobil, rumah, ladang, rumah paman di dekat EL- AZHAR, sekolah,
asrama, rumah Syeh, warung kopi, jalan raya, kamar Bayoumi, apartemen Shafira,
apartemen Firdaus, kontrakan kecil, dapur, rumah pangeran.
–
Sudut Pandang: Orang ketiga
pelaku utama.
–
Gaya Bahasa:
1.
Metafora
“Apa
sebabnya kau naik pitam?” tanya saya.” Kau pikir Firdaus tidak bersalah, bahwa
dia tidak membunuh orang itu?” (hlm: 5)
“Sentuhan
yang sama, kemantapan dan rasa dingin telanjang yang sama pula.” (hlm:11)
“Mereka
adalah lelaki yang menaburkan korupsi dibumi yang merampas rakyat mereka yang
bermulut besar berkesanggupan untuk membujuk memilih kata-kata manis dan
menembakkan panah beracun”. (hlm:39)
2. Litotes
“Dibandingkan
dengan dia, saya hanyalah seekor serangga kecil yang sedang merangkak di tanah
diantara jutaan serangga lain.” (hal:6)
“Setelah
selesai mengisap pipanya, ia berbaring, maka saat kemudian gubuk kami akan
bergetar dengan suara dengur yang keras.” (hal:27)
3. Simile
“Saya
berdiri terpaku seperti berubah menjadi batu.” (hal: 7)
“Mata
yang mematikan, seperti sebilah pisau, menusuk-nusuk, menyayat jauh kedalam,
mata itu menatap tanpa bergerak, tetap.” (hal:11)
“Atau
mungkin pula suara itu mengalun dari segala jurusan seperti udara yang bergerak
dari angkasa tiba ketelinga kita.” (hal:12)
“Tetapi
saya tetap jatuh, terpukul oleh kekuatan yang saling bertentangan… bagaikan
sebuah benda yang tenggelam di lautan tanpa batas,” (hal: 24)
“Saya
hanya cukup melihat ke dalamnya, maka yang putih menjadi lebih putih dan yang
hitam semakin hitam, seolah-olah cahaya matahari menembus ke dalamnya dari arah
sesuatu sumber kekuatan ghaib bukan yang ada di dunia, bukan pula yang di
langit, karena tangah berwarna hitam kelam, dan menjadi gelap bagaikan malam,
tanpa matahari dan tanpa bulan.” (hal: 24)
“Matanya
tetap pudar, tak mempan akan cahayanya, bagaikan dua lampu yang telah padam.”
(hal: 25)
“Mulutnya
seperti mulut seekor unta, dengan lubang yang lebar dan tulang rahang yang
lebar pula.” (Hal:26)
“Kata-kata
itu bagi saya seperti lambang-lambang penuh rahasia yang membuat diri saya
diliputi perasaan agak ketakutan.” (hal:30)
–
Amanat:
Amanat
yang didapat setelah membaca novel ini yaitu sebagai wanita harus terus
mempertahankan harga diri bagaimanapun kondisinya dan jangan menjadi wanita
yang lemah. Jangan sampai harga diri kita di injak-injak oleh kaum pria, dimana
pria yang berkuasa penuh terhadap diri wanita. Tidak hanya itu seorang pria
yang jahat tidak segan-segan menikmati tubuh wanita. Jika wanita berani menolak
nya hal itu tidak akan terjadi, tidak hanya itu sebagai wanita harus menjaga
pakaian agar tidak mengundang nafsu para laki-laki Saat ini wanita mempunyai
hak dan derajat yang sama dengan pria walau sesungguhnya dalam agama memang
wanita di bawah pria dan harus patut terhadap pria. Tapi bukan berarti wanita
menjadi budak pria.
5. Kesimpulan :
Novel ini menggambarkan tentang
bagaimana wanita dianggap rendah oleh kaum laki-laki, karena mereka menganggap
kebanyakan kaum wanita memiliki fisik yang lemah. Tidak hanya itu, wanita Timur
Tengah pada saat itu memiliki pendidikan dan ekonomi yang rendah. Firdaus,
wanita dalam novel ini digambarkan sebagai wanita yang kuat dalam menjalani
kehidupannya. Tidak ada pekerjaan lain selain pelacur yang dapat ia lakukan. Firdaus
digambarkan sebagai perempuan yang kuat, namun dibalik kekuatannya tersebut dia
harus tunduk pada tradisi yang berlaku di mana setiap perempuan harus patuh dan
tunduk terhadap lakilaki. Siapapun laki-laki tersebut pada dasarnya itulah
norma yang berlaku secara umum yang sudah menjadi bagian dari tradisi Timur
Tengah dan aturan-aturan yang terdapat pada agama. Novel ini mempengaruhi
wanita-wanita untuk tidak di rendahkan oleh pria apapun kondisinya dan
menanggung resiko atas semua perbuatan yang telah dilakukan. Jika berani
bertindak haruslah berani bertanggung jawab. Wanita harus kuat, sesulit apapun
keadaan, seberat apapun musibah yang menimpa harus bisa menghadapinya.
Sumber : http://fauzierachman20.wordpress.com/20/13/10/07/kajian-feminisme-pada-novel-perempuan-di-titik-nol-karya-nawal-el-shaadawi/
Sumber : http://fauzierachman20.wordpress.com/20/13/10/07/kajian-feminisme-pada-novel-perempuan-di-titik-nol-karya-nawal-el-shaadawi/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar