Senin, 16 Maret 2015

Tugas Jurnalistik 2 Telaah Novel Sastra



Deviana Kurnia Ningsih
11612929
3SA01
Telaah novel sastra
1.      Judul                      : Women at Point Zero (Perempuan di Titik Nol) oleh Nawal el-Saadawi
Diterjemahkan oleh Amir Sutaarga
Biografi Penulis     : Nawal el-Saadawi adalah seorang dokter yang berasal dari Mesir. Ia dikenal diseluruh dunia sebagai novelis dan penulis wanita sekaligus pejuang hak-hak wanita pertama di Mesir.
Dilahirkan di sebuah desa bernama Kafr Tahla di tepi Sungai Nil. Ia memulai praktek pertama nya didaerah pedesaan, kemudian dirumah sakit sekitar Kairo dan terakhir menjabat sebagai Direktur Kesehatan Masyarakat Mesir pada tahun 1972, Ia diberhentikan oleh Menteri Kesehatan karena sudah menerbitkan buku non-fiksi nya yang pertama, Women and Sex.  Tahun 1973, ia memulai tahap baru dalam hidupnya, tahap itupun telah menjadi saksi lahirnya novel yang berjudul Firdaus atau yang lebih dikenal dengan Women at Point Zero (Perempuan di Titik Nol).
Karya-karya nya, yang disensor oleh badan sensor Mesir dan dilarang di Saudi Arabia dan Libya, sekarang diterbitkan di Lebanon. The Hidden Face of Eve adalah buku pertamanya yang di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karya-karya nya antara lain: Women and Sex, Women and Psychological Conflict (buku-buku mengenai wanita); The Chant of the Children Circle, Two Women in Love, God Dies by the Nile, Memoirs of a Lady Doctor (novel); A Moment of Truth, Little Sympathy (cerita pendek)

2.      Sinopsis     : Firdaus adalah anak petani miskin, yang tidak bisa membaca maupun menulis. Sejak kecil ia sudah merasakan kekejaman fisik maupun mental dari ayah nya. Firdaus diasuh oleh paman nya ketika ayah ibu nya meninggal dunia. Paman Firdaus sering pergi ke Kairo dan belajar di El Azhar, ia memiliki sikap lebih baik dan lembut dibanding ayah nya. Walaupun begitu paman Firdaus tidak melewatkan kesempatan nya untuk melakukan pelecehan seksual kepada dirinya, seringkali paman nya meraba-raba paha Firdaus.
Firdaus disekolahkan oleh pamannya di sekolah menengah pertama. Disana ia merasakan bergaul dengan teman seumurannya dan ia juga merasakan jatuh cinta namun bukan dari pria tapi dari guru nya yang adalah seorang perempuan. Lulus dari sekolah menengah pertama Firdaus mendapat nilai terbaik. Lalu, paman nya menikah dengan anak dari guru nya sewaktu ia sekolah di Al Ezhar.
Bibi nya kurang begitu suka dengan kehadiran Firdaus dirumah nya, sehingga ia berencana menikahkan Firdaus dengan laki-laki tua yang sudah berumur 60 tahun, kaya raya, pelit dan memiliki bisul diwajahnya, ia bernama Syekh Mahmoud.
Sebagai balas budi kepada paman dan bibi nya Firdaus pun menerima pinangan Syekh Mahmoud, walau pada saat itu Firdaus masih berumur 18 tahun. Lama kelamaan Firdaus tidak tahan tinggal bersama Syekh Mahmoud karena ia sering mendapat siksaan fisik dan setiap ia mendapatkan perlakuan tidak mengenakan tersebut Firdaus kabur dari rumah Syekh Mahmoud.
Ketika ia kabur, ia ditolong oleh laki-laki yang tidak dikenalnya yang bernama Bayoumi. Kesan pertama yang ia dapatkan adalah Bayoumi laki-laki baik hati karena sudah menampungnya dirumah nya. Namun kenyataannya, Bayoumi sama dengan laki-laki lain, ia menikmati tubuh Firdaus bersama teman-temannya. Dan disaat ini lah yang membawa Firdaus pada suatu profesi yaitu pelacur.
Disaat ia melarikan diri dari rumah Bayoumi, ia bertemu dengan wanita cantik Sharifa, yang berprofesi sebagai seorang germo. Fawzi adalah pacar Sharifa yang ingin menikahi Sharifa, setelah mendengar berita ini Firdaus memutuskan untuk melarikan diri. Sewaktu hujan ia diajak oleh seseorang yang tidak dikenalnya untuk masuk ke dalam mobil dan dibawa ke hotel, setelah selesai melakukan pekerjaan nya sebagai pelacur ia dibayar 10 pon.
Firdaus menjadi pelacur yang mandiri dan memiliki harga kelas mewah. Ia bisa memiliki apapun yang diinginkan, berdandan secantik mungkin dan bisa memilih pelanggannya sendiri.
Nasib baik belum dimilikinya, Firdaus mulai merasakan frustasi karena merasa tidak nyaman dan tenang hidup sebagai pelacur. Ia beralih profesi bekerja sebagai pegawai kantoran, disana ia jatuh cinta pada teman kerja nya. Tapi teman kerja nya pun hanya ingin menikmati tubuh nya. Firdaus kembali menjadi pelacur dan germo memaksa Firdaus untuk berkerja untuknya. Belajar dari pengalaman, Firdaus merasa bahwa ia tak mau lagi menjadi wanita yang terus menerus di injak-injak. Namun, sang germo tetap memaksa dan mengancamnya. Firdaus memegang sebilah pisau dan menusukkanya kepada germo tersebut, sehingga akhirnya ia terbunuh. Lalu, Firdaus menyerahkan diri kepada polisi dan akhirnya ia dipenjara.
Firdaus dijatuhi hukuman mati dan ia menolak grasi yang diberikan oleh presiden yang diusulkan oleh dokter penjara kepada dirinya. Ia memilih untuk menjalani hukuman tersebut karena baginya hukuman mati merupakan satu-satunya jalan menuju kebebasan sejati.



3. Latar belakang novel Perempuan di Titik Nol
1.     Latar belakang budaya
Penulis dengan lantang menguak kebobrokan masyarakat Mesir yang didominasi oleh kaum laki-laki. Wanita harus menurut kepada suami, ayah dan saudara laki-lakinya sehingga menimbulkan kekerasan fisik maupun batin. Yang digambarkan dengan penderitaan dan pemberontakan Firdaus, wanita Mesir yang tertindas.
2.     Latar belakang sosial
Diceritakan bahwa Firdaus adalah seorang Pelacur. Seperti yang kita ketahui dimasyarakat bagian manapun, pelacur adalah pekerjaan yang dianggap kotor dan tidak terhormat dan biasanya dilakukan oleh masyarakat kalangan bawah.
3.     Latar belakang religius
Novel Perempuan di Titik Nol ini sangat kental dengan nilai Islami nya, yaitu :
-          Mempelajari Al-Quran sejak kecil, seperti yang dilakukan oleh Paman Firdaus yang sudah mengajarkan Firdaus membaca Al-Quran sejak kecil
-          Melakukan sholat Jum’at bagi kaum laki-laki, seperti yang dilakukan oleh Ayah Firdaus setiap hari Jum’at
-          Mengharuskan seorang istri menuruti perintah suami, seperti yang dilakukan Ibu, Bibi dan Firdaus sendiri terhadap suami mereka
  

4. Analisis Novel Perempuan di Titik Nol
Unsur Intrinsik

          Alur : Maju Mundur (Campuran)
Novel ini menceritakan tentang kisah semasa kecil tokoh utama yang harus berpisah dengan ibu kandung dan keluarganya. Firdaus harus berpisah dengan ibunya karena ia harus tinggal bersama pamannya di kota. Setelah itu,  tokoh utamanya  mendapat perlakuan yang tidak senonoh dari lingkungan terdekatnya. Firdaus sering  menjadi korban pelecehan seksual oleh pamannya. Seperti pada kutipan cerita di bawah ini:
“saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya… sampai paha.”(hlm 20)
Sebelumnya, Firdaus sudah pernah melakukan hal yang sama bersama teman laki-laki nya, Muhammadain. Sewaktu mereka masih kecil, seperti yang dikutip pada cerita berikut ini :
            “Kami bermain-main menjadi “pengantin perempuan dan pengantin laki-laki’. Dari bagian tertentu tubuh saya, dibagian mana saya tidak tahu dengan pasti, timbul suatu perasaan nikmat luar biasa.”(hlm 19)                 
Pada bagian konflik inti, novel ini memaparkan kehidupan Firdaus yang semakin tidak jelas, sebenarnya ketidak jelasan hidup Firdaus sudah bias dilihat dari masa kecil nya. Ia dijadikan objek shahwat oleh kaum pria yang hanya ingin menikmati tubuhnya. Karena pada saat itu perempuan hanyalah kaum tertindas. Meskipun demikian, ia selalu tegar sehingga kehidupannya berangsur membaik. Ia mulai menikmati kehidupannya, walaupun tetap sebagai seorang pelacur. Hingga pada akhirnya ia terlibat kasus pembunuhan dan penganiayaan terhadap germo. Ia pun harus menerima hukuman yang setimpal, yaitu hukuman mati
Pada penyelesaian konfliknya Firdaus tidak pernah menyesali atas apa yang pernah ia perbuat..
“Sekarang saya sedang menunggu mereka. Sebentar lagi mereka akan datang menjemput saya (untuk dieksekusi).” (hlm 148)

       Tokoh :
Firdaus                        : Lemah lembut, tegas dan kuat pada pendiriannya
Dokter Psikolog          : Sabar, lembut dan ramah
Sipir                             : Judes dan galak
DokterPenjara             : Sombong
Ayah                           : Kasar dan galak
Ibu                               : Kejam dan kasar
Paman                         : Baik dan pengertian. Tetapi karena keadaan menjadi kejam
Isrtri Paman                 : Licik
Wafeya                        : Sahabat yang mengerti dan memahami Firdaus
Kepala sekolah            : Tegas
Syekh Mahmoud         : Suami Firdaus yang pelit, kikir dan kasar
Bayoumi                      : Awalnya baik namun setelah Firdaus tidak nyaman dengannya tingkah lakunya berubah menjadi kasar. Dan salah satu pria yang menikmati tubuh Firdaus
Shafira                         : Orang yang licik karena memanfaatkan kepolosan Firdaus untuk mendapatkan uang yang banyak
Ibrahim                        : Orang yang licik karena memanfaatkan kepolosan Firdaus untuk mendapatkan uang yang banyak
Marzouk                      : Orang yang suka memaksa dan akhirnya dibunuh oleh Firdaus
Pangeran                     : Orang yang melaporkan Firdaus ke polisi karena telah membunuh

          Latar :
Latar Tempat: Penjara, mobil, rumah, ladang, rumah paman di dekat EL- AZHAR, sekolah, asrama, rumah Syeh, warung kopi, jalan raya, kamar Bayoumi, apartemen Shafira, apartemen Firdaus, kontrakan kecil, dapur, rumah pangeran.

          Sudut Pandang:  Orang ketiga pelaku utama.

          Gaya Bahasa:
1. Metafora
“Apa sebabnya kau naik pitam?” tanya saya.” Kau pikir Firdaus tidak bersalah, bahwa dia tidak membunuh orang itu?” (hlm: 5)
 “Sentuhan yang sama, kemantapan dan rasa dingin telanjang yang sama pula.” (hlm:11)
“Mereka adalah lelaki yang menaburkan korupsi dibumi yang merampas rakyat mereka yang bermulut besar berkesanggupan untuk membujuk memilih kata-kata manis dan menembakkan panah beracun”. (hlm:39)

2. Litotes
“Dibandingkan dengan dia, saya hanyalah seekor serangga kecil yang sedang merangkak di tanah diantara jutaan serangga lain.” (hal:6)
“Setelah selesai mengisap pipanya, ia berbaring, maka saat kemudian gubuk kami akan bergetar dengan suara dengur yang keras.” (hal:27) 

3. Simile
 “Saya berdiri terpaku seperti berubah menjadi batu.” (hal: 7)
“Mata yang mematikan, seperti sebilah pisau, menusuk-nusuk, menyayat jauh kedalam, mata itu menatap tanpa bergerak, tetap.” (hal:11)
“Atau mungkin pula suara itu mengalun dari segala jurusan seperti udara yang bergerak dari angkasa tiba ketelinga kita.” (hal:12)
“Tetapi saya tetap jatuh, terpukul oleh kekuatan yang saling bertentangan… bagaikan sebuah benda yang tenggelam di lautan tanpa batas,” (hal: 24)
“Saya hanya cukup melihat ke dalamnya, maka yang putih menjadi lebih putih dan yang hitam semakin hitam, seolah-olah cahaya matahari menembus ke dalamnya dari arah sesuatu sumber kekuatan ghaib bukan yang ada di dunia, bukan pula yang di langit, karena tangah berwarna hitam kelam, dan menjadi gelap bagaikan malam, tanpa matahari dan tanpa bulan.” (hal: 24)
“Matanya tetap pudar, tak mempan akan cahayanya, bagaikan dua lampu yang telah padam.” (hal: 25)
“Mulutnya seperti mulut seekor unta, dengan lubang yang lebar dan tulang rahang yang lebar pula.” (Hal:26)
“Kata-kata itu bagi saya seperti lambang-lambang penuh rahasia yang membuat diri saya diliputi perasaan agak ketakutan.” (hal:30)

          Amanat:
Amanat yang didapat setelah membaca novel ini yaitu sebagai wanita harus terus mempertahankan harga diri bagaimanapun kondisinya dan jangan menjadi wanita yang lemah. Jangan sampai harga diri kita di injak-injak oleh kaum pria, dimana pria yang berkuasa penuh terhadap diri wanita. Tidak hanya itu seorang pria yang jahat tidak segan-segan menikmati tubuh wanita. Jika wanita berani menolak nya hal itu tidak akan terjadi, tidak hanya itu sebagai wanita harus menjaga pakaian agar tidak mengundang nafsu para laki-laki Saat ini wanita mempunyai hak dan derajat yang sama dengan pria walau sesungguhnya dalam agama memang wanita di bawah pria dan harus patut terhadap pria. Tapi bukan berarti wanita menjadi budak pria. 

5. Kesimpulan :
Novel ini menggambarkan tentang bagaimana wanita dianggap rendah oleh kaum laki-laki, karena mereka menganggap kebanyakan kaum wanita memiliki fisik yang lemah. Tidak hanya itu, wanita Timur Tengah pada saat itu memiliki pendidikan dan ekonomi yang rendah. Firdaus, wanita dalam novel ini digambarkan sebagai wanita yang kuat dalam menjalani kehidupannya. Tidak ada pekerjaan lain selain pelacur yang dapat ia lakukan. Firdaus digambarkan sebagai perempuan yang kuat, namun dibalik kekuatannya tersebut dia harus tunduk pada tradisi yang berlaku di mana setiap perempuan harus patuh dan tunduk terhadap lakilaki. Siapapun laki-laki tersebut pada dasarnya itulah norma yang berlaku secara umum yang sudah menjadi bagian dari tradisi Timur Tengah dan aturan-aturan yang terdapat pada agama. Novel ini mempengaruhi wanita-wanita untuk tidak di rendahkan oleh pria apapun kondisinya dan menanggung resiko atas semua perbuatan yang telah dilakukan. Jika berani bertindak haruslah berani bertanggung jawab. Wanita harus kuat, sesulit apapun keadaan, seberat apapun musibah yang menimpa harus bisa menghadapinya.

Sumber : http://fauzierachman20.wordpress.com/20/13/10/07/kajian-feminisme-pada-novel-perempuan-di-titik-nol-karya-nawal-el-shaadawi/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar